' World Cup 2026 dan Konflik Geopolitik '

/

/ Sabtu, 13 Juni 2026 / 08.38 WIB

 

" World Cup 2026 & Konflik Geopolitik "




World Cup, dikenal dengan sebutan Piala Dunia memang punya banyak cerita, selalu dinantikan pengemar ‘kulit bundar’ se jagad raya. Baik itu informasi tentang profil tim peserta/negara yang bertanding, skill dan gaya bermain setiap individu pemain, strategi pelatih tim, maupun ragam khas dari kota-kota tempat penyelenggara pertandingan yang terekspos menjadi memori dan catatan besar dalam sejarah persepakbolaan dunia.

Puluhan bahkan ratusan juta pasang mata orang di dunia, saat ini terfokus pada setiap momen pertandingan yang digelar dan dapat disaksikan langsung di stasiun televisi, termasuk yang disiarkan televisi nasional, di tanah air. Piala Dunia tahun 2026 untuk pertama kali kuota pesertanya ditambah jadi sebanyak 48 negara/tim yang dibagi menjadi 12 Grup.

Namun, ada yang berbeda aura dan momen Word Cup 2026 kali ini, yang pembukaanya berlangsung di Stadion Azteca Mexico pada Jumat, 12 Juni dan ditutup 20 Juli 2026. Negeri 'Sombrero'' Mexico bersama Amerika Serikat dan Kanada ditetapkan FIFA sebagai penyelenggara bersama pada even yang digelar setiap empat tahunan itu.

Konflik Geopolitik global yang saat ini masih berkecamuk dan menegang di beberapa negara yang sedang bertikai, yaitu ; Iran, AS - Israel, Lebanon, Rusia, Ukraina dan beberapa negara di Timur Tengah, seakan menimbulkan aura dan nuansa baru yang menyelimuti even sepak bola paling bergengsi itu.

Dampak kondisi Geopolitik global yang masih memanas bisa menimbulkan multitafsir bagi publik sepakbola, sehingga memunculkan pertanyaan yang urgen terhadap berlangsungnya ‘Fair Play’ dan konsekwensi keamanan pada Piala Dunia kali ini.

Dalam konteks Komunikasi Internasional, bisa kita ‘garisbawahi' dan menjadi catatan tersendiri bahwa perlunya komitmen dan kolaborasi bersama antar stakeholder terkait dengan ketiga negara tuan rumah penyelenggara Piala Dunia 2026. 

Pentingnya kondusivitas positif yang perlu dirawat dan dijaga bersama agar tetap nyaman dan 'enjoy' bagi negara/tim peserta yang bertanding dalam even yang secara resmi digelar sejak tahun 1930, di Uruguay itu.

Bagi penyelenggara Piala Dunia tahun ini, hendaknya fokus dan komitmen untuk berupaya menegakkan 'Fair Play’ yang selama ini disosialisasikan oleh FIFA. Adalah bentuk konkret yang harus direalisasikan dalam setiap laga pertandingan di World Cup 2026, dari pembukaanya hingga berakhirnya turnamen sepak bola terbesar ini.

Piala Dunia juga diyakini berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, yaitu mengangkat nilai kesejahteraan khususnya bagi para pemainnya. Sebab, pasca berakhirnya even ini biasanya bursa transfer para pemain debutan dan berpontensi pun makin marak. 

Tentunya, World Cup 2026 kali ini diharapkan sebagai even pemersatu bangsa - bangsa, termasuk negara yang terlibat konflik Geopolitik global tersebut.(Muhammad Isya, S.Sos, M.I.Kom)

 


Komentar Anda

Berita Terkini