" World Cup 2026 & Konflik Geopolitik "
“ World Cup, dikenal dengan sebutan Piala Dunia memang punya cerita tersendiri dan selalu dinantikan pengemar si ‘kulit bundar’ se jagad raya. Baik itu informasi setiap tim peserta/negara yang bertanding, skill dan gaya bermain setiap individu pemain, strategi pelatih tim maupun ragam khas dari kota-kota tempat penyelenggara pertandingan yang terekspos menjadi memori dan catatan tersendiri dalam sejarah persepakbolaan dunia.
Puluhan bahkan ratusan juta pasang mata orang di dunia saat
ini terfokus pada setiap momen pertandingan yang digelar dan dapat disaksikan
langsung di stasiun televisi, termasuk yang di
siarkan televisi nasional, di tanah air. Piala Dunia tahun 2026 untuk
pertama kali diikuti sebanyak 48 negara/tim peserta yang dibagi menjadi 12
Grup.
Namun, ada yang berbeda dari momen Word Cup
2026 kali ini, yang pembukannya berlangsung di Stadion Azteca Mexico pada Jumat, 12 Juni
dan ditutup 20 Juli 2026 (waktu Indonesia ). Negeri 'Sombrero'' Mexico bersama
Amerika Serikat dan Kanada, ditetapkan FIFA menjadi
penyelenggara dan tuan rumah bersama pada Piala Dunia yang digelar setiap Empat
tahunan.
Isu dan konflik Geopolitik yang saat ini masih berkecamuk, khususnya di negara yang sedang bertikai, yaitui; AS, Iran,
Israel, Lebanon, Rusia, Ukraina dan beberapa negara di Timur Tengah dan di
belahan bumi lainnya seakan menjadi nuansa kabut yang menyelimuti even sepak
bola terbesar dan paling bergengsi ini.
Suasana ketegangan Geopolitik Global yang masih
berlangsung diperkirakan sedikit banyaknya memberi dampak Piala Dunia ini,
terutama bentuk ‘Fair Play’ dan konsekwensi keamanan yang tentu perlu dipertanyakan publik sepak bola, terkhusus
negara/ tim peserta yang terlibat langsung dalam konflik Geopolitik Global itu.
Dalam konteks kondisi real World Cup 2026 ini, FIFA sebagai induk organisasi sepak bola terbesar tentunya dapat ‘menggarisbawahi’
even yang digelar setiap Empat tahunan tersebut. Bahwa perlu konsisten dan berkolaborasi
dengan seluruh stake holder terkait serta ketiga negara tuan rumah bersama itu
dan 16 kota penyelenggara pertandingan. Sejak hari pertama pembukaan hingga di hari
penutupan, sangat penting dijaganya suasana dan aura positif dalam
kondusivitas yang tetap nyaman, agar negara/tim peserta yang ikut berlaga dalam
even yang resmi diselenggarakan sejak tahun 1930 itu, tetap merasa ‘enjoy’
bertanding.
Tentunya, komitmen dalam upaya menegakkan 'Fair Play’ yang selalu disosialisasi oleh FIFA selama ini kepada
tim peserta/negara yang bertanding bersama wasit yang memimpin pertandingan, adalah bentuk ‘real’ yang harus direalisasikan, khususnya dalam setiap
laga pertandingan di World Cup 2026 yang tengah berlangsung saat ini. Semoga saja..." (Muhammad Isya, S.Sos, M.I.Kom)
