"Aura Piala Dunia 2022"
Turnamen yang berlangsung di lima kota terbesar di Qatar, dijadualkan pada 20 November hingga 18 Desember 2022, diikuti 32 peserta/negara (dari 5 konfederasi) yang bergabung di FIFA. Ada kondisi yang berbeda mewarnai World Cup 2022 tahun ini. Masih terjadinya konflik global dan geopolitik di beberapa negara. Sebut saja, perang antara Rusia dan Ukraina yang kita liat di media massa, masih berkecamuk.
Sejumlah negarapun sangat serius mewaspadai ancaman perang tersebut. Imbasnya berdampak pada ekonomi global yang mulai mengalami resisi/krisis. Tidak saja negara-negara kecil dan berkembang di benua Afrika, Asia dan benua Amerika yang mengalaminya, tapi juga negara-negara maju yang selama ini dikenal perekonomian yang mapan, seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa mengalami inflasi tinggi alias ekonominya ‘terseok-seok’.
Menjadi kebiasaan, menjelang Piala Dunia, minimal sebulan sebelum turnamen yang menyedot perhatian puluhan juta pemirsa/penonton baik langsung menyaksikannya di stadion maupun di siaran televisi itu, sudah sangat terasa auranya. Di mana-mana, geliatnya dan semaraknya terasa dan tampak jelas, di pelosok kampung/desa, pesisir pantai hingga di kota-kota besar. Di warung kopi tradisional, rumah makan/restoran, loby hotel sampai di kafe-kafe anak muda milenial, ramai dan semarak. Ya, semua orang membicarakan Piala Dunia.
Kita masih menunggu susana 'heboh' nya seperti Word Cup tahun-tahun sebelumnya, yang selalu ramai diperbincangankan publik.
Piala Dunia 2022 ini, mungkinkah 'aura semerbaknya' akan terpengaruh kondisi ekonomi dan konflik global yang kurang bersahabat..?!" ( Muhammad Isya, S.Sos,
M.I.Kom ).