" The Right Man on The Right Place "
" Kita sering mendengar istilah asing ini: ‘The Right Man on The Right Place’. Kurang lebih artinya adalah menempatkan orang yang benar dan tepat dalam suatu posisi, jabatan ataupun pekerjaan pada tempat atau bidang yang sesuai dengan kemampuan keahliannya/skill, tingkat ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Istilah ini dulunya sangat populer, dan diyakini sangat strategis dalam menegaskan suatu konsep manajemen yang fair atau adil, khususnya masalah pekerjaan atau job, baik internal organisasi maupun non organisasi. Namun belakangan, istilah ini kurang 'familiar' kita dengar lagi. Pada sebagian orang menganggap istilah tersebut seakan tidak penting dan bukan suatu prinsip. Apa sebabnya..?!
The Right Man on The Right Place dalam konteks llmu Komunikasi, memiliki makna verbal atau bahasa (ucapan, ungkapan lisan dan tulisan) yang disadur dari Bahasa Inggeris itu cukup tegas dan bijak serta sangat responsif. Istilah ini juga mengandung konsep yang jelas dan objektif. Terlebih, guna mencapai suatu alur proses Komunikasi Organisasi, Komunikasi Kelompok dan Komunikasi Bisnis yang efektif.
Permasalahannya adalah fakta dan implementasinya. Ketika konsep ini tidak berjalan baik atau tidak menghasilkan suatu harapan yang sesuai dengan apa yang sudah digariskan dalam bentuk kebijakan atau peraturan yang sudah disepakati bersama. Adakah yang salah dalam mengimplementasikan istilah ini..?!
Merujuk Teori Filsafat Ilmu, dalam teori pengetahuan atau Epistemologi, bila tingkat keilmuan yang dimiliki seseorang tidak sesuai dengan jabatannya maka relevansinya dipastikan berbanding lurus dengan Aksiologi atau hasil akhirnya. Sehingga hilirnya pun akan menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal pula bahkan nihil sama sekali.
The Right Man on The Right Place, sejatinya dapat berlangsung efektif dan menuai hasil sesuai tujuan dan harapan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun dengan syarat, apabila komitmen dan konsisten dengan benar dan tepat sasaran dalam menempatkan suatu jabatan, pekerjaan/job kepada seseorang sesuai dengan tingkat pengetahuan, kemampuan keahliannya/skill yang dimilikinya.
The Right Man on The Right Place, cuma menjadi lip servise atau ' isapan bibir ', alias janji manis belaka, ketika makna kata tersebut tidak dipatuhi bersama orang-orang yang terlibat di dalamnya. Apakah disebakan faktor kepentingan, nepotisme atau ambisi..?!
Nah, fakta membuktikan bahwa ketiga faktor tersebut bisa menjadi 'batu sandungan' dalam menerapkan konsep The Right Man on The Right Place yang seharusnya fair, jujur dan ideal itu. " (Muhammad Isya, S.Sos, M.I.Kom)
