-->

Tahun 2022, BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 4,7-5,5%

/

/ Kamis, 25 November 2021 / 07.29 WIB

 

MEDAN--PILAREMPAT.COM | Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengaku optimis bahwa ke depan di tahun 2022 ekonomi Indonesia akan maju dan lebih seimbang. Tentunya dibarengi dengan sinergi dan inovasi bersama sekaligus seiring meredanya Covid-19.

Hal itu diutarakan Perry pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2021 dengan Tema “Bangkit dan Optimis Sinergi dan Inovasi Untuk Pemulihan Ekonomi” di Jakarta dan disiarkan secara virtual yang dihadiri Presiden RI Jokowidodo, para menteri, Gubernur setiap provinsi, OJK, Kepala BI setiap provinsi dan seluruh stakeholder lainnya termasuk awak media, Rabu (24/11/2021).

“Dengan sinergi dan inovasi Indonesia akan maju kedepan di tahun 2022. Mari kita perkuat optimisme ekonomi menuju Indonesia maju. Pemulihan ekonomi global pada tahun 2022 akan menuju lebih seimbang seiring meredanya Covid-19, pembukaan sektor ekonomi dan stimulus kebijakan,” kata Perry.

Ditambah lagi di negara maju seperti Eropa dan Jepang menyusul Amerika Serikat, negara emarging India dan juga menyusul Tiongkok volume perdagangan dunia meningkat dan harga komunitas tinggi.

Meski begitu, dikatakan Perry muncul lima permasalahan baru yang perlu dicermati. Pertama normalisasi kebijakan di negara maju dan ketidakpastian pasar keuangan global. Kedua, dampak luka memar Pandemi korporasi dan sistem keuangan. Ketiga meluasnya sistem pembayaran digital antar negara dan risiko aset kripto. Keempat tuntutan ekonomi keuangan hijau. Kelima, melebarnya kesenjangan inklusi ekonomi.

“Kelima permasalahan Global ini akan menjadi agenda prioritas Presidensi Indonesia G20 pada tahun 2022 dengan Recover together Recover Strong. Di Indonesia ekonomi akan pulih pada tahun 2022. Insyaallah pertumbuhan akan lebih tinggi mencapai 4,7 sampai 5,5% pada 2022 dari 3,4 sampai 4% pada 2021,” ungkapnya.

Selain itu export konsumsi dan investasi juga meningkat didukung vaksinasi, pembukaan sektor ekonomi dan stimulus kebijakan. Stabilitas nilai tukar Rupiah akan tetap terjaga sesuai komitmen kuat ban Indonesia ditengah normalisasi moneter. Defisit transaksi berjalan rendah sekitar 0,1% PDB pada 2021 dan 1 setengah persen PDB pada 2022.

Perry juga memaparkan bahwa cadangan Devisa meningkat, keuangan terjaga, kecukupan modal tinggi, likuiditas melimpah, dana pihak ketiga dan kredit akan tumbuh masing-masing 7 sampai 9% dan 6 sampai 8% pada 2022. Kemudian Ekonomi keuangan digital meningkat pesat. Pada 2022 ecomers mencapai 530 triliun rupiah, uang elektronik 337 triliun rupiah. Sementara perbankan digital lebih dari 58 ribu triliun rupiah.

“Sinergi dan inovasi adalah kunci untuk bangkit. Ekonomi nasional akan bangkit tahun depan. Inilah semngat terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah, baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan, dan tentunya perbankan, dunia usaha, DPRKomisi XI, akademisi, media dan masyarakat,” pungkasnya. [P4]


Komentar Anda

Berita Terkini