BPS Catat Inflasi Sumut pada Juli 2026 sebesar 4,20 Persen, Kota Gunungsitoli Inflasi Terbesar

/

/ Selasa, 04 Agustus 2026 / 09.49 WIB

Statistisi Ahli Utama BPS Provinsi Sumatera Utara, Misfaruddin, M.Si,

PILAREMPAT.com - Medan :

Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,20 persen pada Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2026 mencapai 113,47, meningkat dibandingkan IHK pada Juli 2025 yang berada di level 108,90.

Statistisi Ahli Utama BPS Provinsi Sumatera Utara, Misfaruddin, M.Si, (foto) menyampaikan perkembangan inflasi tersebut di Medan, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dengan IHK 116,38. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen dengan IHK 113,17.

“Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dan terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen,” ujar Misfaruddin.

Ia menjelaskan, inflasi tahunan Sumatera Utara dipengaruhi kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,66 persen.

Selanjutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,95 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 5,21 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 3,55 persen.

Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,37 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 3,08 persen.

Kelompok kesehatan tercatat mengalami inflasi 2,51 persen, pakaian dan alas kaki 2,37 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,46 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,95 persen.

Adapun kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi sebesar 0,81 persen.

Makanan dan Minuman Jadi Penyumbang Terbesar

Dari sisi andil terhadap inflasi y-on-y, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan kontribusi terbesar, yakni 2,14 persen.

Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,54 persen, transportasi 0,50 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,30 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan pendidikan masing-masing 0,16 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,13 persen, pakaian dan alas kaki 0,11 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,08 persen, kesehatan 0,06 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,02 persen.

Secara komoditas, sejumlah barang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Sumatera Utara. Emas perhiasan memberikan andil 0,46 persen, cabai merah 0,37 persen, cabai rawit 0,32 persen, tomat 0,23 persen, bensin 0,22 persen, minyak goreng 0,16 persen, dan angkutan udara 0,14 persen.

Komoditas lainnya yang turut memberikan andil antara lain akademi/perguruan tinggi sebesar 0,11 persen. Sementara ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso dan ikan dencis masing-masing memberikan andil 0,10 persen.

Beras dan telepon seluler masing-masing menyumbang 0,08 persen. Kemudian ikan tongkol/ikan ambu-ambu dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) masing-masing 0,07 persen.

Daging ayam ras, laptop/notebook, ayam goreng dan udang basah masing-masing memberikan andil 0,06 persen, sedangkan wortel dan mi masing-masing sebesar 0,05 persen. [P4/rel/sya]

Komentar Anda

Berita Terkini